Morfologi Abnormal Eritrosit

Sel darah merah adalah salah satu jenis sel darah yang beredar dan mengalir di dalam tubuh manusia. Sel darah eritrosit ini beredar di dalam tubuh manusia semenjak lahir, dan mengalami proses pembentukan dan penghancuran sel tua terus-menerus. Pembentukan sel darah merah baru membutuhkan nutrisi untuk menyempurnakan sel baru yang tercipta.

Sel darah merah ini beredar mengalir di seluruh pembuluh darah manusia untuk menjalankan fungsinya. Sel darah merah atau Eritrosit yang beredar dalam darah tepi tidak lagi mengandung inti dan dapat hidup selama 100 hari – 120 hari.

Morfologi Abnormal Sel Darah Merah (Eritrosit)

Kelainan sel darah merah atau eritrosit biasanya dinyatakan dalam perubahan bentuk, ukuran dan warnanya (atau derajat hemoglobinisasinya). Perubahan pada bentuk dan derajat hemoglobinisasinya (warnanya) dapat, bahkan harus dibuktikkan sesuai dengan nilai rata-rata eritrosit (Indeks Wintrobe), yaitu MCV, MCH, dan MCHC

Kerusakan akibat kesalahan teknis (“artefacts“) dapat terjadi sejak dari pengambilan sampel sampai saat pemrosesan sediaan apus dan seringkali dapat menimbulkan hasil yang sangat membingungkan. Cacat (defek) akibat “artefacts” tadi bervariasi dari terjadinya krenasi membran sel eritrosit sampai pada densitas pewarnaannya.

Pedoman sederhana untuk meyakini benar tidaknya artefacts yang ditemui dalam pemeriksaan mikroskopik adalah dengan mengulangi pemeriksaan dengan menggunakan darah yang tidak dibubuhi zat antikoagulan. Bila meragukan kelainan bentuk dan ukuran yang ditemui dalam pemeriksaan, sebaiknya melakukan ulang pada sediaan basah sederhana dengan menggunakan mikroskop fase kontras.

Kelainan dalam Ukuran Sel

Sel-sel Mikrositik

Sel-sel eritrosit dengan diameter rata-rata kurang dari 6,0 μm dan volume eritrosit rata-rata kurang dari 76 fL. Gambaran mikrositik dapat dijumpai pada anemia defisiensi besi.

Sel-sel Makrositik

Sel-sel eritrosit dengan diameter rata-rata lebih dari 8,0 μm dan volume eritrosit rata-rata lebih dari 96 fL.

Makrosit dikaitkan adanya defisiensi vitamin B12 dan asam folat. Ada yang membedakan antara sel makrosit yang bundar dan sel makrosit yang oval. Pada defisiensi vitamin B12 dan asam folat ditemukan makrosit yang oval, sedang yang bundar sering dijumpai pada penyakit hati.

Anisositosis

Anisositosis adalah gambaran sel-sel eritrosit dengan ukuran yang lebih bervariasi. Gambaran ini sering menimbulkan kesulitan karena harus dibedakan dari variasi normal, meningkatnya polikromasi, atau gambaran darah yang dimorfik.

Umumnya, anisositosis merupakan gambaran yang non-spesifik yang dapat dijumpai pada banyak kelainan, dan biasanya mencerminkan perubahan fungsi sumsum tulang.

Kelainan dalam Derajat Hemoglobinisasi (Warna)

Hipokromasia

Hipokromasia adalah kelainan sel berupa warna sel darah merah atau eritrosit yang kelihatan lebih pucat dari warna normalnya. Biasanya hal ini dihubungkan dengan berkurangnya kandungan hemoglobin dan menyebabkan akromia sentral sel eritrosit kelihatan lebih luas.

Gambaran serupa dapat juga terjadi bila ada ketebalan dinding eritrosit berkurang, misalnya pada sel-sel “target”. Hipokromasia biasanya terjadi pada anemia defisiensi besi. Tetapi, setiap kelainan yang mengganggu produksi hemoglobin dapat saja menghasilkan hipokromasia.

Hiperkromasia

Hiperkromasia adalah morfologi abnormal eritrosit berupa kelainan warna sel darah merah yang tampak lebih merah/gelap dari warna normal eritrosit. Hal ini tidak mengandung arti terjadinya kelebihan hemoglobin (oversaturation) dalam sel eritrosit karena nilai maksimum MCHC terbatas sampai pada 36%. Namun, begitu terjadi hiperkromasia dapat dijumpai bila terjadi penebalan dinding sel darah merah (misalnya pada sferosit).

Nilai MCH juga tidak dapat dipakai untuk melukiskan suatu hiperkromasia pada anemia makrositik. Oleh karena bertambahnya volume eritrosit sebanding dengan bertambahnya kandungan hemoglobin.

Polikromasia

Polikromasia adalah kelainan sel darah merah atau eritrosit berupa warna sel yang kelihatan merah-keunguan pada pewarnaan baku Romanowsky. Reaksi warna ini terjadi karena adanya RNA dan dikaitkan dengan retikulosit (retikulosit hanya dapat ditunjukkan dengan pewarnaan supravital).

Setiap kelainan yang menyebabkan meningkatnya produksi eritrosit akan meningkatkan jumlah sel polikromatik ini; MCV juga meningkat karena sel yang muda bentuknya lebih besar dari sel yang dewasa.

Anisokromasia

Anisokromasia adalah kelainan eritrosit berupa warna populasi eritrosit yang tampak tidak sama rata. Misalnya dijumpai pada penderita anemia defisiensi besi yang mendapat transfusi darah.

Kelainan Bentuk Eritrosit

Poikilositosis

Ialah keadaan dimana populasi sel darah merah atau eritrosit tampil dengan bentuk yang bervariasi. Biasanya poikilositosis biasanya bersamaan dengan anisositosis.

Meningkatnya poikilositosis sering menunjukkan adanya kelainan eritropoiesis yang disebabkan oleh defek sumsum tulang atau kelainan destruksi eritrosit.

Dalam situasi normal, suatu poikilosit merupakan penuaan eritrosit dimana sejalan dengan ketuaannya, sebagian kecil dari membrannya terkelupas. Dalam situasi yang abnormal, poikilositosis menjadi sedemikian nyata sehingga eritrosit berbentuk tetesan air mata (“tear drops“). Gambaran ini menjadi ciri dari eritropoiesis ekstrameduler.

 

Scroll to Top