Good Laboratory Practice – Tindakan Pencegahan

K3 atau Kesehatan dan keselamatan kerja di laboratorium merupakan bagian dari pengelolaan laboratorium secara keseluruhan. Laboratorium melakukan berbagai tindakan dan kegiatan terutama berhubungan dengan spesimen yang berasal dari manusia maupun bukan manusia. Bagi petugas laboratorium yang selalu kontak dengan spesimen, maka berpotensi terinfeksi kuman patogen.

Potensi infeksi juga dapat terjadi dari petugas ke petugas lainnya, atau keluarganya dan ke masyarakat. Untuk mengurangi bahaya yang terjadi, perlu adanya kebijakan yang ketat. Petugas harus memahami keamanan laboratorium dan tingkatannya, mempunyai sikap dan kemampuan untuk melakukan pengamanan sehubungan dengan pekerjaannya sesuai Standard Operational Procedure (SOP), serta mengontrol bahan/spesimen secara baik menurut praktik laboratorium yang benar.

Good Laboratory Practice – Tindakan Pencegahan

Memperhatikan tindakan pencegahan terhadap hal-hal sebagai berikut:

a. Mencegah Penyebaran Bahan Infeksi

Mencegah penyebaran bahan infeksi, misalnya:

  1. Menggunakan peralatan standar.
  2. Misal lingkaran sengkelit ose harus jenuh dan panjang tangkai maksimum 6 cm.
  3. Tidak melakukan tes katalase diatas gelas obyek.
  4. Sebaiknya gunakan tabung atau gelas obyek yang memakai penutup. Cara lain adalah dengan menyentuhkan permukaan koloni mikroorganisme dengan tabung kapiler hematokrit yang berisi hidrogen peroksida.
  5. Menempatkan sisa spesimen dan media biakan yang akan disterilisasi dalam wadah yang tahan bocor.
  6. Melakukan dekontaminasi permukaan meja kerja dengan disinfektan yang sesuai setiap kali habis bekerja.

b. Mencegah bahan infeksi tertelan atau terkena kulit serta terkena mata.

Mencegah bahan infeksi tertelan atau terkena kulit serta terkena mata. Selama bekerja, partikel dan droplet (diameter > 5 μm) akan terlepas ke udara dan menempel pada permukaan meja serta tangan petugas laboratorium.

Untuk itu dianjurkan untuk mengikuti hal-hal di bawah ini:

  1. Mencuci tangan dengan sabun/disinfektan sebelum dan sesudah bekerja. Jangan menyentuh mulut dan mata selama bekerja
  2. Tidak makan, minum, merokok, menguyah permen atau menyimpan makanan/ minuman dalam laboratorium
  3. Tidak memakai kosmetik ketika berada dalam laboratorium
  4. Menggunakan alat pelindung mata/muka jika terdapat risiko percikan bahan infeksi saat bekerja

c. Mencegah infeksi melalui tusukan

Jarum suntik, pipet Pasteur kaca dan pecahan kaca obyek dapat menyebabkan luka tusuk. Untuk itu dapat dihindari dengan bekerja dengan hati-hati dan memilih pipet pasteur yang terbuat dari plastik.

d. Menggunakan pipet dan alat bantu pipet

  1. Tidak memipet dengan mulut, tetapi gunakan alat bantu pipet
  2. Tidak meniupkan udara maupun mencampur bahan terinfeksi dengan cara menghisap dan meniup cairan lewat pipet
  3. Tidak keluarkan cairan dari dalam pipet secara paksa
  4. Disinfeksi segera meja kerja yang terkena tetesan cairan/bahan infeksi dari pipet dengan kapas yang dibasahi disinfektan. Kapas di otoklaf setelah selesai digunakan.
  5. Gunakan pipet ukur karena cairan tidak perlu dikeluarkan sampai tetes terakhir
  6. Rendam pipet habis pakai dalam wadah berisi disinfektan.
  7. Biarkan selama 18-24 jam sebelum disterilisasi
  8. Tidak menggunakan semprit dengan atau tanpa jarum suntik untuk memipet.

e. Menggunakan sentrifus/alat pemusing

  1. Lakukan sentrifugasi sesuai instruksi pabrik.
  2. Sentrifus harus diletakkan pada ketinggian tertentu sehinggapetugas laboratorium dapat melihat ke dalam alat dan menempatkan tabung sentrifus dengan mudah.
  3. Periksa rotor sentrifus dan selonsong (bucket) sebelum dipakai atau secara berkala untuk melihat tanda korosi dan keretakan.
  4. Selongsong berisi tabung sentrifus harus seimbang
  5. Gunakan air untuk menyeimbangkan selongsong. Jangan gunakan larutan NaCI atau hipoklorit karena bersifat korosif.
  6. Setelah dipakai, simpan selongsong dalam posisi terbalik agar cairan penyeimbang dapat mengalir keluar.
  7. Melakukan sentrifugasi dengan cara yang benar yaitu tabung harus tertutup rapat dan selongsong yang terkunci, untuk melindungi petugas laboratorium terhadap aerosol dan sebaran partikel dari mikroorganisme.
  8. Pastikan sentrifuse tertutup selama dijalankan.

f. Menggunakan alat homogenisasi, alat pengguncang dan alat sonikasi

  1. Tidak menggunakan alat homogenisasi yang dipakai dalam rumah tangga, karena dapat bocor dan menimbulkan aerosol. Gunakan blender khusus untuk laboratorium
  2. Mangkuk, botol dan tutupnya harus dalam keadaan baik dan tidak cacat. Tutup botol harus pas.
  3. Aerosol yang mengandung bahan infeksi dapat keluar dari celah antara tutup dan tabung alat homogenisasi, alat pengguncang (shaker) dan alat sonikasi. Dapat dicegah dengan menggunakan tabung yang terbuat dari politetrafluoretilen (PTFE), karena tabung dari gelas dapat pecah.
  4. Gunakan alat pelindung telinga saat melakukan sonikasi.

g. Menggunakan lemari pendingin dan lemari pembeku

  1. Membersihkan lemari pendingin (refrigerator), lemari pembeku (freezer) dan tabung es kering (dry-Ice), melakukan defrost secara teratur
  2. Membuang ampul, tabung, botol dan wadah lain yang pecah. Menggunakan alat pelindung muka dan sarung tangan karet tebal saat bekerja. Setelah dibersihkan, permukaan dalam lemari pendingin dan lemari pembeku harus didisinfeksi dengan disinfektan yang tidak korosif
  3. Memberi label wadah yang berisi nama bahan, tanggal disimpan dan nama orang yang menyimpan. Wadah yang tidak berlabel dan bahan yang sudah kadaluwarsa harus dimusnahkan.
  4. Tidak menyimpan cairan yang mudah terbakar.

h. Membuka ampul berisi bahan infeksi yang diliofilisasi

Ampul berisi bahan infeksi yang disimpan dalam bentuk liofilisat harus dibuka dengan hati-hati. Bahan di dalam ampul berada dalam tekanan yang rendah, sehingga bila ampul dibuka dengan tiba-tiba, maka sebagian isinya
dapat menyebar ke udara. Ampul harus selalu dibuka dalam kabinet keamanan biologis.

Dianjurkan untuk mengikuti petunjuk di bawah ini saat membuka ampul:

  1. Dekontaminasi permukaan luar ampul.
  2. Beri tanda pada bagian ampul dekat sumbat kapas atau selulose.
  3. Pegang ampul dalam keadaaan terbungkus kapas.
  4. Lepaskan bagian atas ampul dengan perlahan dan perlakukan sebagai bahan yang terkontaminasi.
  5. Jika sumbat masih ada di atas bahan, lepaskan dengan forsep steril.
  6. Tambahkan cairan perlahan-lahan untuk melarutkan kembali bahan dalam ampul dan mencegah timbulnya busa/gelembung cairan.