Teori Psikososial Manusia

Kebutuhan Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik yang bersifat psikologik maupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik. Masalah kejiwaan dan kemasyarakatan yang mempunyai pengaruh timbal balik, sebagai akibat terjadinya perubahan sosial dan atau gejolak sosial dalam masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa (Depkes, 2011).

Teori Psikososial Manusia

Tokoh psikososial Erik H. Erikson berasumsi bahwa:

a. Perkembangan kepribadian manusia terjadi sepanjang rentang kehidupan
b. Perkembangan kepribadian manusia dipengaruhi oleh interaksi sosial—hubungan dengan orang lain
c. Perkembangan kepribadian manusia ditentukan oleh keberhasilan atau kegagalan seseorang mengatasi krisis yang terjadi pada setiap tahapan sepanjang rentang kehidupan.

a. Tahap Perkembangan Psikososial

Erik H. Erikson menyatakan ada delapan tahap/fase perkembangan kepribadian memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat biologis.

Adapun tingkatan dalam delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia adalah sebagai berikut:

1) Trust vs Mistrust (Percaya vs Tidak Percaya)

Terjadi pada usia 0 s/d 18 bulan, dari lahir sampai usia satu tahun dan merupakan tingkatan paling dasar dalam hidup. Pada bayi sangat tergantung dari pengasuhan. Jika anak berhasil membangun kepercayaan, dia akan merasa selamat dan aman dalam dunia.

2) Autonomy vs Shame and Doubt (Otonomi vs Malu dan Ragu-ragu)

Terjadi pada usia 18 bulan s/d 3 tahun. Masa awal kanak-kanak dan berfokus pada perkembangan besar dari pengendalian diri.

Latihan penggunaan toilet adalah bagian yang penting. Kejadian-kejadian penting lain meliputi pemerolehan pengendalian lebih yakni atas pemilihan makanan, mainan yang disukai, dan juga pemilihan pakaian. Anak yang berhasil melewati tingkat ini akan merasa aman dan percaya diri, sementara yang tidak berhasil akan merasa tidak cukup dan ragu-ragu terhadap diri sendiri.

3) Initiative vs Guilt ( Inisiatif dan Rasa Bersalah)

Terjadi pada usia 3 s/d 5 tahun. Masa usia prasekolah mulai menunjukkan kekuatan dan kontrolnya akan dunia melalui permainan langsung dan interaksi sosial lainnya.

Anak yang berhasil dalam tahap ini merasa mampu dan kompeten dalam memimpin orang lain. Adanya peningkatan rasa tanggung jawab dan prakarsa. Mereka yang gagal mencapai tahap ini akan merasakan perasaan bersalah, perasaan ragu-ragu, dan kurang inisiatif. Rasa bersalah dapat digantikan dengan cepat oleh rasa berhasil.

4) Industry vs Inferiority (Tekun vs Rasa Rendah Diri)

Terjadi pada usia 6 s/d pubertas, melalui interaksi sosial, anak mulai mengembangkan perasaan bangga terhadap keberhasilan dan kemampuan mereka.

Anak yang didukung dan diarahkan oleh orang tua dan guru membangun pesan kompeten dan percaya dengan keterampilan yang dimilikinya. Anak yang menerima sedikit atau tidak sama sekali dukungan dari orang tua, guru, atau teman sebaya akan merasa ragu akan kemampuannya untuk berhasil. Prakarsa yang dicapai sebelumnya memotivasi mereka untuk terlibat dengan pengalaman baru. Ketika beralih ke masa pertengahan dan akhir kanak-kanak, mereka mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual.

Permasalahan yang dapat timbul pada tahun sekolah dasar adalah berkembangnya rasa rendah diri, perasaan tidak berkompeten dan tidak produktif. Guru memiliki tanggung jawab khusus bagi perkembangan ketekunan anak-anak.

5) Identity vs Identify Confusion (Identitas vs Kebingungan Identitas)

Terjadi pada masa remaja, yakni usia 10 s/d 20 tahun. Selama remaja ia mengekplorasi kemandirian dan membangun kepekaan dirinya. Anak dihadapkan dengan penemuan siapa, bagaimana, dan ke mana mereka menuju dalam kehidupannya. Anak dihadapkan memiliki banyak peran baru dan status sebagai orang dewasa, pekerjaan dan romantisme.

Jika remaja menjajaki peran dengan cara yang sehat dan positif maka identitas positif akan dicapai. Jika suatu identitas remaja ditolak oleh orang tua, tidak secara memadai menjajaki banyak peran, jalan masa depan positif tidak dijelaskan, maka kebingungan identitas merajalela.

Bagi mereka yang menerima dukungan memadai maka eksplorasi personal, kepekaan diri, perasaan mandiri dan kontrol dirinya akan muncul dalam tahap ini. Bagi mereka yang tidak yakin terhadap kepercayaan diri dan hasratnya, akan muncul rasa tidak aman dan bingung terhadap diri dan masa depannya.

6) Intimacy vs Isolation (Keintiman vs Keterkucilan)

Terjadi selama masa dewasa awal (20an s/d 30an tahun). Tahap ini penting, yaitu tahap seseorang membangun hubungan yang dekat dan siap berkomitmen dengan orang lain.

Mereka yang berhasil di tahap ini, akan mengembangkan hubungan yang komit dan aman. Identitas personal yang kuat penting untuk mengembangkan hubungan yang intim. Jika mengalami kegagalan, maka akan muncul rasa keterasingan dan jarak dalam interaksi dengan orang.

7) Generativity vs Stagnation (Bangkit vs Stagnan)

Terjadi selama masa pertengahan usia dewasa. Selama masa ini, mereka melanjutkan membangun hidupnya berfokus terhadap karier dan keluarga.

Mereka yang berhasil dalam tahap ini, maka akan merasa bahwa mereka berkontribusi terhadap dunia. Mereka yang gagal melalui tahap ini, akan merasa tidak produktif dan tidak terlibat di dunia ini.

8) Integrity vs Despair (Integritas vs putus asa)

Terjadi selama masa akhir dewasa. Cenderung melakukan cerminan diri terhadap masa lalu.

Mereka yang tidak berhasil pada fase ini, akan merasa bahwa hidupnya percuma dan mengalami banyak penyesalan. Individu akan merasa kepahitan hidup dan putus asa. Mereka yang berhasil melewati tahap ini, berarti ia dapat mencerminkan keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialami. Individu ini akan mencapai kebijaksanaan, meskipun saat menghadapi kematian.

b. Kriteria Kepribadian Yang Sehat

  • Citra tubuh positif dan akurat
    Kesadaran akan diri berdasar atas observasi mandiri dan perhatian yang sesuai akan kesehatan diri. Termasuk presepsi saat ini dan masa lalu.
  • Ideal dan realitas
    Individu mempunyai ideal diri yang realitas dan mempunyai tujuan hidup yang dapat dicapai.
  • Konsep diri yang positif
    Konsep diri yang positif menunjukkan bahwa individu akan sesuai dalam hidupnya.
  • Harga diri tinggi
    Seseorang yang akan mempunyai harga diri tinggi akan memandang dirinya sebagai seorang yang berarti dan bermanfaat. Ia memandang dirinya sama dengan apa yang ia inginkan.
  • Kepuasan penampilan peran
    Individu yang mempunyai kepribadian sehat akan dapat berhubungan dengan orang lain secara intim dan mendapat kepuasan, dapat memercayai dan terbuka pada orang lain serta membina hubungan interdependen.
  • Identitas jelas
    Individu merasakan keunikan dirinya yang memberi arah kehidupan dalam mencapai tujuan.

c. Karakteristik Konsep Diri Rendah

  • Menghindari sentuhan atau melihat bagian tubuh tertentu
  • Tidak mau berkaca
  • Menghindari diskusi tentang topik dirinya
  • Menolak usaha rehabilitasi
  • Melakukan usaha sendiri dengan tidak tepat
  • Mengingkari perubahan pada dirinya
  • Peningkatan ketergantungan pada yang lain
  • Tanda dari keresahan seperti marah, keputusasaan, dan menangis
  • Menolak berpartisipasi dalam perawatan dirinya.