Sistem Golongan Darah Rhesus

Golongan Darah Rhesus (Rh)

Dengan penemuan sistem golongan darah ABO, tadinya diperkirakan bahwa kesulitan awal yang didapati untuk melakukan transfusi darah telah teratasi, serta transfusi akan menjadi aman dan mudah dilakukan. Akan tetapi, sebenarnya tidaklah begitu adanya.

Sementara kebanyakan transfusi dilakukan berhasil baik, kadang-kadang beberapa pasien yang mendapat darah ABO yang cocok masih mengalami keluhan reaksi transfusi yang tidak enak. Selain dari itu, masih ada juga beberapa ibu yang melahirkan seorang bayi dengan golongan ABO darah yang cocok, ternyata bayinya menunjukkan gejala anemia yang jelas. Hal ini diyakini sebagai akibat adanya antibodi-antibodi golongan darah yang tidak cocok, yang ada dalam serum ibu melewati plasenta. Lalu merusak sel-sel darah merah janin, sehingga timbullah haemolytic disease of the newborn.

Kepentingan Rhesus (Rh)

Kepentingan sistem golongan darah Rhesus atau Rh telah diperlihatkan dengan jelas oleh Levine dan Stetson pada tahun 1939. Ketika sesudah melahirkan bayi lahir-mati, seorang pasien secara mendadak memerlukan suatu transfusi darah. Ketika darah yang cocok ABO-nya ditransfusikan, ternyata terjadi reaksi transfusi yang fatal.

Penelitian laboratorium kemudian menemukan ternyata bahwa serum si ibu mempunyai suatu antibodi yang ireguler yang bereaksi kuat dengan sel-sel darah merah janinnya. Seperti antibodi terdahulu yang telah dilaporkan oleh Landsteiner dan Wiener, antibodi si ibu bereaksi sekitar 83% dalam populasi secara acak. Jika antibodi ini dibandingkan dengan yang terdahulu ditemukan Landsteiner dan Wiener, tampaklah bahwa mereka memiliki ciri-ciri yang mirip.

Sebagai hasil penemuan ini, bukan hanya suatu sistem golongan darah baru ditemukan, tetapi juga suatu penjelasan ilmiah telah didapat untuk menjelaskan sebab dari reaksi-reaksi transfusi yang tidak diketahui, dan mengapa bayi-bayi baru lahir menderita suatu anemia yang disebabkan oleh ketidakcocokan golongan darah ibu-janin.

Dasar Genetik Sistem Golongan Darah Rhesus

Sesudah penemuan sistem golongan darah Rhesus atau Rh dikaji lebih lanjut, segera terlihat bahwa sistem ini ternyata jauh lebih rumit daripada sistem golongan darah ABO terdahulu, yang hanya memiliki dua antigen, A dan B. Sistem Rh memiliki enam gen, yaitu Cc, Dd dan Ee. Ia juga punya lima antigen yaitu Cc, D dan Ee. Tidak ada antigen yang dibuat oleh gen d.

Gen-gen Rh selalu ada didalam bentuk bertiga, dengan satu set diperoleh dari tiap orang tua. Gen-gen ini dapat muncul di tiap kombinasi, seperti CDe, cDE, cdE, dan seterusnya. Adalah kombinasi gen-gen pada kromosom orang tua yang menentukan kombinasi gen-gen anaknya. Ada beberapa kombinasi gen yang lebih sering muncul, tetapi keberadaan atau tidaknya gen D yang paling penting.

Bilamana seseorang mewarisi sebuah gen D, sel-sel darah merahnya menjadi positif jika diuji dengan anti-D, dan orang itu dikatakan Rh D positif. Bilamana seseorang tidak mewarisi gen D, sel-sel darah merahnya akan negatif bila diuji dengan anti-D. Orang itu dinyatakan sebagai Rh D negatif.

Tanpa adanya anti-d, tidak dapat menentukan apakah seseorang yang bereaksi dengan anti-D adalah homozigot untuk D (misalnya telah mewarisi sebuah gen D dari tiap orang tua: D/D) atau heterozigot (misalnya telah mewarisi sebuah gen D dari salah satu orang tua dan gen d dari yang lainnya: D/d). Seseorang yang mewarisi dua gen d adalah negatif D.

Jumlah penduduk yang Rh D positif bervariasi pada populasi yang berbeda di dunia. Di Eropa Utara, 85% populasi D positif, sedangkan di Afrika Barat 95% D positif. Di sebagian Cina, semuanya D positif.