Cuci Tangan – Prosedur Kewaspadaan Universal

Mikroorganisme pada kulit manusia dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok, yaitu flora risiden dan flora transien. Flora risiden adalah mikroorganisme yang secara konsisten dapat diisolasi dari tangan manusia, tidak mudah dihilangkan dengan gesekan mekanis, yang telah beradaptasi pada kehidupan tangan manusia. Flora transien yang juga disebut flora kontaminasi, jenisnya tergantung dari lingkungan tempat bekerja. Mikroorganisme ini dengan mudah dapat dihilangkan dari permukaan dengan gesekan mekanis dan pencucian dengan sabun atau deterjen. Oleh karena itu, cuci tangan adalah cara pencegahan infeksi yang sangat penting.

Cuci tangan harus selalu dilakukan dengan benar. Dilakukan sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan atau alat pelindung lain untuk menghilangkan/mengurangi mikroorganisme yang ada di tangan sehingga penyebaran penyakit dapat dikurangi dan lingkungan terjaga dari infeksi. Tangan harus dicuci sebelum dan sesudah memakai sarung tangan.

Cuci tangan tidak dapat digantikan oleh pemakaian sarung tangan

Tiga cara mencuci tangan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, yaitu:

  1. Higienik atau rutin: mengurangi kotoran dan flora yang ada di tangan dengan menggunakan sabun atau detergen
  2. Aseptik: sebelum tindakan aseptik pada pasien dengan menggunakan antiseptik
  3. Cuci tangan bedah (surgical handscrub): sebelum melakukan tindakan bedah cara aseptik dengan antiseptik dan sikat steril

Indikasi Cuci Tangan

Cuci tangan harus dilakukan pada saat yang diperkirakan mungkin akan terjadi perpindahan kuman melalui tangan. Yaitu, sebelum melakukan suatu tindakan yang seharusnya dilakukan secara bersih dan setelah melakukan tindakan yang memungkinkan terjadi pencemaran, seperti:

  • Sebelum melakukan tindakan. Misalnya, memulai pekerjaan (baru tiba di kantor); ketika hendak memeriksa (kontak langsung dengan pasien); saat akan memakai sarung tangan steril atau sarung tangan yang telah didesinfeksi tingkat tinggi (DTT) untuk melakukan suatu tindakan; saat akan memakai¬†medical equipment atau peralatan yang telah di-CTT; melakukan injeksi; dan waktu ingin pulang ke rumah
  • Setelah melakukan tindakan. Yang kemungkinan terjadi pencemaran, misalnya: setelah memeriksa pasien; setelah memegang medical equipment atau alat-alat bekas pakai dan bahan-bahan lain yang berisiko terkontaminasi; menyentuh selaput mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya; setelah membuka handscoon atau sarung tangan (cuci tangan sesudah membuka sarung tangan perlu dilakukan karena ada kemungkinan handscoon berlubang atau robek); ketika dari toilet/kamar mandi; saat bersin atau batuk.

Sarana Cuci Tangan

Air Mengalir

Sarana utama untuk cuci tangan adalah air mengalir dengan saluran pembuangan atau bak penampung yang memadai. Dengan guyuran air mengalir tersebut maka mikroorganisme yang terlepas karena gesekan mekanis atau kimiawi saat cuci tangan akan terhalau dan tidak menempel lagi di permukaan kulit.

Air mengalir tersebut dapat berupa kran atau dengan cara mengguyur dengan gayung, namun cara mengguyur dengan gayung memiliki risiko cukup besar untuk terjadinya pencemaran, baik melalui gagang gayung ataupun percikan air bekas cucian kembali ke bak penampung air bersih. Air kran bukan berarti harus dari PAM, namun dapat diupayakan secara sederhana dengan tangki berkran di ruang pelayanan/perawatan kesehatan agar mudah dijangkau oleh para petugas kesehatan yang memerlukannya.

Sabun dan Deterjen

Bahan tersebut tidak membunuh mikroorganisme tetapi menghambat dan mengurangi jumlah mikroorganisme dengan jalan mengurangi tegangan permukaan sehingga mikroorganisme terlepas dari permukaan kulit dan mudah terbawa oleh air. Jumlah mikroorganisme semakin berkurang dengan meningkatnya frekuensi cuci tangan, namun di lain pihak dengan seringnya menggunakan sabun atau deterjen maka lapisan lemak kulit akan hilang dan membuat kulit menjadi kering dan pecah-pecah. Hilangnya lapisan lemak akan memberi peluang untuk tumbuhnya kembali mikroorganisme.

Larutan Antiseptik

Larutan antiseptik atau disebut juga antimikroba topikal, dipakai pada kulit atau jaringan hidup lainnya untuk menghambat aktivitas atau membunuh mikroorganisme pada kulit. Antiseptik memiliki bahan kimia yang memungkinkan untuk digunakan pada kulit dan selaput mukosa. Antiseptik memiliki keragaman dalam hal efektivitas, aktivitas, akibat dan rasa pada kulit setelah dipakai sesuai dengan keragaman jenis antiseptik tersebut dan reaksi kulit masing-masing individu.

Kulit manusia tidak dapat disterilkan. Tujuan yang ingin dicapai adalah penurunan jumlah mikroorganisme pada kulit secara maksimal terutama kuman transien. Kriteria memilih antiseptik adalah sbb:

  1. Memiliki efek yang luas, menghambat atau merusak mikroorganisme secara luas (gram positif dan gram negatif, virus lipofilik, basilus dan tuberkulosis, fungi, endospora)
  2. Efektifitas
  3. Kecepatan aktifitas awal
  4. Efek residu, aksi yang lama setelah pemakaian untuk meredam pertumbuhan
  5. Tidak mengakibatkan iritasi kulit
  6. Tidak menyebabkan alergi
  7. Efektif sekali pakai, tidak perlu diulang-ulang
  8. Dapat diterima secara visual maupun estetik